Skenario Masa Muda

a simple Fragmentary Steps of Life of a future ocean engineer.
X: Eh, lo tau anaknya Ahmad Dh*ni kan? Si Al, El, sama Dul?
Y: Iya, kenapa?
X: Ternyata anaknya Ahmad Dh*ni cuma Al sama El doang loh!
Y: Ah, Ahmad Dh*ni sih kaya kucing, beranak terus dimana-mana.
X: Lo tau ga Si Dul anak siapa?
Y: Siapa, siapa?
X: Si Dul anak Sekolahan!
Y: ...

“Even if one wants them, there are lots of things society does not allow, aren’t there?”

“That’s why I said ‘the poor creatures!’ If one is born into unjust society, it can’t be helped. Whether it’s permits it or not, is of not much importance. The main thing is to want it oneself.”

“And what if one wants to be something and still doesn’t become it?”

“Whether or not one becomes it, is not the problem. One has to want it. By wanting it, one causes society to permit it,” Says Kei in peremptory tones.

 

-“The 210th Day: 24-25” by Soseki Natsume

(via debtstar)

 Beck Re-imagining David Bowie’s “Sound and Vision”. Love it.

Don’t you wonder sometimes, ‘bout sound and vision?

Blue, blue, electric blue. That’s the color of my room, where I will live.

Blue, blue…

Pale blinds drawn all day. Nothing to do, nothing to say.

Blue, blue…

I will sit right down, waiting for the gift of sound and vision.

And I will sing, waiting for the gift of sound and vision.

Drifting to my solitude, over my head.

Don’t you wonder sometimes, ‘bout sound and vision?”

 

Suatu hari, sebuah sms masuk ke HP saya.
085xxx: Ven, maneh UTS prospan susulan kan waktu kemaren? Diijinin ama bapanya? Bilang langsung? Soalnya sama atau beda? Makasih Ven.
V: Ini siapa? Gue Bu Nita.
085xxx: Wah mohon maaf bu. saya salah save nomer hp. Saya Shilla bu 15510039. Sekali lagi mohon maaf bu salah smsnya.
V: *poker face*
V: maksudnya gue prospan Bu Nita ._____.

Kami adalah generasi pemimpi, hidup dengan impian-impian indah masa depan. Dongeng-dongeng cantik tentang kehidupan. Namun sangat disayangkan, mimpi dan realita berada pada dua dimensi yang berbeda. Saat kami terbangun, kami mendapati ketiadaan: kosong, nihil, sia-sia.

Aku ingin berhenti bermimpi tanpa berhenti berharap.

Aku ingin berhenti bermimpi.

Aku ingin berhenti,

tolong!

_

Tertanda,

Manusia naif yang ingin berhenti bermimpi dan memulai bervisi.

(Source: thatrelatableblog, via debtstar)

Aulia Tiara: Dor
V: Ape
A: test contact~ Muahahahaa
A: Cuma ke maneh doang ih lancarnya, betek.
A: Apa aing pacaran sama maneh aja ya, komunikasinya lebih lancar sih~
V: ._____. (No, thanks. I'm straight)
Venny: Bisa ga yah es timun surinya ga pake es?
Izqi: Jadi es timun uri dong?
Venny: Bukan tau, e timun uri.
Autocorrect?
R: Tadi siang dong aku makan ayam bakar plus gadis2..
R: Eh, gado2.

Bacot.

Selamat siang!

Kemarin saya jenuh belajar UTS susulan dinstruk, lalu iseng melihat notes Facebook saya (yang-ehm-agak-labil, tapi tenang saja karena sudah dihapus) dan menemukan tulisan di bawah ini:

Pukul 22 di tanggal 22 desember ini saya belum mengucapkan selamat hari ibu. bukan karena saya lupa, hanya karena saya terlalu sibuk dengan teman saya. bukan juga karena saya terlalu sibuk mengejar nilai sehingga melupakan beliau. saya hanya tidak yakin dia memerlukan sepotong kalimat itu. selamat hari ibu.

pagi hari ini, beliau yang hampir tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya itu membuatkan segelas susu hangat untuk saya. lengkap dengan sepotong roti yang dibelinya dari tukang roti langganan keluarga kami. saya menebak-nebak, mungkinkah sifat dinginnya adalah penyebab kekakuan hubungan kami? atau cara kerasnya dalam mendidik kami adalah sebuah terobosan dalam membentuk mental kami? ah, yang jelas beliau nampak tidak terlalu peduli dengan kenyataan bahwa hari ini adalah hari penghargaan bagi jutaan ibu dan calon ibu di Indonesia. baginya hari ini berjalan biasa saja, tidak ada yang istimewa. tidak ada yang membuat hari ini begitu berbeda dengan hari-harinya selama 50 tahun silam. hari ini beliau tetap harus bangun pagi dan mengurus anak anaknya seperti biasa. ya, seperti biasa saja!

saya seperti biasa berangkat ke sekolah setelah meminum segelas susu itu. juga lengkap dengan roti cokelat. bukan, bukan roti strawberry yang biasa saya bawa ke sekolah dan dinikmati saat jam pelajaran ketiga. roti cokelat. juga setelah mencium tangan kanannya. beliau mengingatkan saya untuk memakai sweater karena saya berangkat dengan menggunakan motor pagi ini. 

pagi ini sebelum berangkat saya sekilas menatap mata beliau. saya melihat doa, harapan, perhatian dan kecemasan yang melimpah. takut jika anaknya menjadi sampah masyarakat. takut anaknya mengambil jalan yang salah. harapan harapan tentang kesuksesan anak anaknya dan doa-doa agar ketakutannya tidak terjadi. juga termasuk agar saya bisa sampai selamat di sekolah, dan kembali lagi ke rumah dengan selamat pada malam harinya. 

dan mendadak saya sadar. ternyata segelas susu itulah tanda nyata kasih sayang beliau. juga roti yang tersedia di sebelah susu itu. bahkan sepotong kalimat kecil bernada tinggi, ” pake sweaternya!” yang beliau ucapkan tadi pagi.

memang beliau tidak memerlukan sepotong kalimat remeh seperti selamat hari ibu, tetapi beliau memerlukan sesuatu yang lebih dari itu. beliau memerlukan perhatian dan penghargaan dari anak anaknya. dan saya sadari perhatian yang beliau berikan kepada saya dan saudara-saudara saya jauh lebih besar dibandingkan dengan perhatian kami pada beliau. kenyataan betapa tidak dewasanya saya selama ini begitu mencengangkan. begitu saya sadar, rambutnya sudah memutih, walau sedikit. 

saya bukan anak yang pandai beromantis dengan kata kata puitis. saya bukan anak yang bisa memeluk beliau di pagi hari dengan tangan terbuka dan berkata, “selamat hari ibu”. satu satunya cara untuk membalas jerih payahnya adalah dengan menjadi anak yang bisa membanggakan beliau. yang mungkin belum bisa saya lakukan hari ini, tapi pasti suatu hari nanti. dengan kerja keras serta doa dan ridhonya, pasti. 

selamat hari ibu! bagi para ibu dan calon ibu!

 Tuesday, December 22, 2009

-

Bacot. 

bahkan saya lupa pernah menulis hal seidealis itu. hari ini, 3 tahun setelah tulisan itu dibuat, saya dipaksa kembali becermin.

Apakah saya sudah bergerak mendekati tujuan akhir di tulisan di atas: menjadi anak yang bisa membanggakan beliau?

Jujur saja, dengan keadaan saya yang sekarang, saya malu membaca tulisan di atas. Yah, akhir-akhir ini saya mencari motivasi dan tujuan. Mungkin ini adalah salah satu bentuk motivasi, hahaha. Sudahlah, mari belajar Dinstruk lagi.

Selamat siang!

Venny : Pu, gue lagi suka lagu ini entah kenapa. Tapi gue lupa judulnya.
@erlanggapu : Ini Jar of Hearts kan?
Venny : Bukan, kalo Jar of Hearts sih soundtrack gue berantem sama Rizki dulu, gue apal.
Epu : Ini Jar of Hearts yang baru, tau. Kan lu berantemnya udah lama. Ini ada yang baru
Venny : ...